Home / Hikmah / Rehat

Senin, 19 April 2021 - 22:17 WIT

Hukum Tentang Berhubungan Suami Istri Saat Puasa Ramadan, ini Syarat dan Pejelasannya

Ilustrasi suami istri dari Freepik

Ilustrasi suami istri dari Freepik

HIKMAH, KONTRAS MEDIA – Berhubungan badan antara suami dan istri di bulan suci Ramadan boleh dilakukan asal memenuhi syarat yang diajurkan Agama.

Setiap orang yang berpuasa di Bulan Ramadan diharuskan untuk menahan hawa nafsu yang bisa membatalkan puasa.

Selain menahan lapar dan minum, ada hal lain yang juga mesti dihindari agar nilai pahala saat puasa tidak berkurang, seperti bergunjing, marah hingga melihat lawan jenis dengan hawa nafsu.

Dengan menghindari hal-hal tersebut, puasa yang dilakukan diharapkan nilai pahalanya bisa tetap terjaga.

Lantas, bagaimana jika di suatu waktu orang tersebut lupa dengan puasanya hingga tak dapat menahan hawa nafsu, lalu melakukan berhubungan badan dengan suami atau istri?

Bagaimana hukumnya melakukan hubungan badan saat Bulan Ramadhan?

Boleh Dilakukan Malam Hari

Bersetubuh atau berhubungan badan suami istri merupakan suatu kebolehan, meski itu dilakukan dibulan Ramadhan sekalipun.

Namun waktu melakukan hubungan badan itu harus dilakukan pada malam hari.

Karena jika dilakukan saat siang hari, terlebih saat berpuasa, maka hal itu bisa membatalkan puasa.

Hukum Berhubungan Badan atau Bersetubuh di Bulan Ramadan seperti disebutkan secara jelas di dalam Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 187:

“Diperbolehkan bagi kalian pada malam hari (di bulan Ramadan) bercampur dengan istri-istri kalian.”

Dijelaskan dalam Buku Pintar Panduan Lengkap Ibadah Muslimah karya Ustaz M. Syukron Maksum, bahwa melakukan hubungan badan suami istri atau bersetubuh saat puasa di siang hari merupakan hal yang bisa membatalkan puasa.

Saking terlarangnya, jika melakukan hubungan badan di siang hari saat puasa, maka bisa mendapatkan hukuman berupa denda atau kafarat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT



Hukuman atau denda tersebut dalam istilah Islam disebut dengan kafarat jima’.

Hukuman Jika Melakukan saat Siang Hari

Kafarat Jima’ merupakan denda yang dikenakan kepada orang-orang yang membatalkan puasa karena melakukan hubungan suami istri di siang hari pada saat puasa ramadan, atau jima’.

Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Jawa Tengah, Wahid Ahmad dikutip dari Tribunnews menerangkan, kafarat berbeda dengan fidyah, di mana fidyah merupakan mengganti puasa bagi orang tua yang tidak kuat puasa.

Ada beberapa tingkatan jenis kafarat yang disesuaikan dengan kemampuan orang yang akan menjalankan kafarat itu sendiri.

Pertama, dengan cara memerdekakan budak. Kedua, berpuasa 2 bulan berturut-turut. Ketiga, memberi makan 60 orang miskin.

Dalil wajib membayar kafarat bagi orang yang melakukan jima‘ di bulan Ramadan adalah hadis yang berbunyi:

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: ( جاء رجل الى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال: هلكت يا رسول الله ، قال: وما أهلكك؟ قال: وقعت على امرأتي في رمضان. قال: هل تجد ما تعتق؟ قال: لا. فقال: هل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين ، قال: لا، قال: فهل تجد ما تطعم ستين مسكيناً؟ قال: لا ، قال: ثم جلس فأتى النبي بعرق فيه تمر، فقال: تصدق بهذا، قال: على أفقر منا فما بين لابيتها أهل بيت أحوج إليه منا، فضحك النبي – صلى الله عليه وسلم – حتى بدت أنيابه، ثم قال: اذهب فأطعمه أهلك)

Artinya: Abu Hurairah RA berkata, ”Di saat kami duduk-duduk bersama Rasulullah SAW datang seoang laki-laki kepada Nabi SAW dan berkata, ‘Aku telah binasa wahai Rasulullah! Nabi menjawab, apa yang mencelakakanmu? Orang itu berkata, aku menyetubuhi isteriku di bulan Ramadan.’ Nabi bertanya, adakah kamu memiliki sesuatu untuk memerdekakan budak? Orang itu menjawab, tidak. Nabi bertanya lagi, sanggupkah kamu berpuasa dua bulan terus-menerus? Orang itu menjawab, tidak. Nabi bertanya, apakah kamu memiliki sesuatu untuk memberikan makan enam puluh orang miskin? Orang itu menjawab, tidak. Kemudian Nabi terdiam beberapa saat hingga didatangkan kepada Nabi sekeranjang berisi kurma dan berkata, sedekahkanlah ini. Orang itu berkata, adakah orang yang lebih miskin dari kami? Maka tidak ada tempat di antara dua batu hitam penghuni rumah yang lebih miskin dari kami? Dan Nabi pun tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya kemudian berkata, “Pergilah dan berikanlah kepada keluargamu.”

Perkara batalnya puasa karena berhubungan suami istri ini berbeda dengan batalnya puasa yang disebabkan makan atau minum karena lupa.

Tidak mungkin seseorang melakukannya karena lupa, dikarenakan pekerjaan tersebut dilakukan dengan melibatkan dua orang yaitu suami dan istri.

Tentu apabila salah seorang lupa maka seorang lagi bisa mengingatkannya.

Share :

Baca Juga

Nisfhu Syaban

Hikmah

Kapan Malam Nisfhu Syaban 2021? Ini Niat Puasa dan Doanya
Hutang

Rehat

Kesal Tak Bayar Hutang Arisan, Wanita ini Kirim Buku Yasin Gambar Peminjam ke Keluarga
Bulan Ramadhan

Hikmah

Bulan Ramadhan Semakin Dekat, Sudah Melunasi Qodho?
Cristiano Ronaldo

Kesehatan

WHO Puji Aksi Ronaldo yang Singkirkan Coca-Cola dan Memilih Air Putih
Pelakor

Hikmah

Doa Agar Suami Terhindar Dari Godaan Pelakor
Momintahang

Hikmah

Momintahang, Tradisi Masyarakat BMR Menyambut Bulan Suci Ramadan
Hewan Kurban

Hikmah

Idul Adha Sebentar Lagi, ini Syarat Sah Hewan Sapi dan Kambing untuk Kurban
Gula Darah

Rehat

Catat! ini Ciri-ciri Gula Darah Tinggi yang Harus Diwaspadai