BOLMONG 1959

Hudia & Hanun

4 mins read
Hudia dan Hanun
Hudia dan Hanun, 1959

Sisa gerimis dari atap ijuk ⁣⁣⁣⁣⁣menitik ke pelipis yang gemetar
⁣⁣⁣⁣⁣kerik jangkrik menjelma latar. Hudia ⁣⁣⁣⁣⁣
menahan kekasihnya untuk tetap tinggal.

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣Negara berkhianat. Hanun bicara.
⁣⁣⁣⁣⁣
Daerah hanya lumbung bagi lambung-⁣⁣⁣⁣⁣
lambung penguasa yang urung⁣⁣⁣⁣⁣
bertukar lapar dengan rakyat mereka.

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣Hudia mengerti, ia tak bisa menahan ⁣⁣⁣⁣⁣
laki-laki yang berjanji menikahinya.
⁣⁣⁣⁣⁣
Hanya tersisa siluet punggung melepas langkah ⁣⁣⁣⁣⁣
dari beranda di bawah cemas sinar bulan. 

⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
Kita akan dikenang dengan kemenangan!
⁣⁣⁣⁣⁣Hanun bergeming

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣Kelapa-kelapa itu seharga kepala kita!
⁣⁣⁣⁣⁣Hanun bergeming⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣

Kita benteng terakhir pemberontakan, ⁣⁣⁣⁣⁣
jangan lengah!
⁣⁣⁣⁣⁣Hanun bergeming

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣Bila daerah menjelma lautan darah, ⁣⁣⁣⁣⁣
itu lebih baik dari komunis merah!
⁣⁣⁣⁣⁣Hanun bergeming, ia pikir ⁣⁣⁣⁣⁣
itu kelakar yang lain.⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣

Foto Hudia Simbala dan Hanun Paputungan serta anak keenam mereka, Pola Paputungan.

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣Kotamobagu dibakar!⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣Hanun tak bergeming. 

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣Sesampainya ia di sana ⁣⁣⁣⁣⁣
menanti reruntuhan hitam sangit ⁣⁣⁣⁣⁣
menuntut pertanggungjawaban

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣Ia temukan tulang-belulang Hudia sebagai ⁣⁣⁣⁣⁣
arang sisa bara permesta semalam; sebagai ⁣⁣⁣⁣⁣
debu, melangit dari lidah-lidah api separuh

⁣⁣⁣⁣⁣Kotamobagu; sebagai rindu yang dirajai amarah.

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣Laki-laki itu terpanah pikirannya sendiri: ⁣⁣⁣⁣⁣
aku telah kalah sebelum Kalah!⁣⁣⁣⁣⁣ tubuh Hudia tak bergeming ⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣Rindu Hanun masih setia bergerilya di antara ⁣⁣⁣⁣⁣
hutan basah Modinding dan gigil kabut Mooat ⁣⁣⁣⁣⁣
bergerilya di antara kenangan masa kanak dan ⁣⁣⁣⁣⁣
janjinya untuk kembali dengan selamat

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣matanya tenggelam⁣⁣⁣⁣⁣
air mata panas⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣

Selalu ia mencari-cari cara pulang ke ⁣⁣⁣⁣⁣
lengan Hudia tanpa perlu tiba ke puing-⁣⁣⁣⁣⁣
puing ingatan yang membunuh dirinya ⁣⁣⁣⁣⁣
sendiri

setiap malam ⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣bibirnya meredam ⁣⁣⁣⁣⁣
harum dendam

⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣Memang, permesta tidak lagi ada ⁣⁣⁣⁣⁣
tapi Hanun masih menghukum dirinya ⁣⁣⁣⁣⁣
dengan rindu yang menolak habis dan hangus ⁣⁣⁣⁣⁣
di hadapan luka sejarah yang begitu banyak sia-sia⁣⁣⁣⁣⁣

Puisi dari Tyo Mokoagow

Leave a Reply

Your email address will not be published.